Kuliner Singkat, Coto dan Konro Makasar

Posted: 8th July 2010 by Taryono Darusman in Catatan Perjalanan
Tags: , , ,

Turun pesawat di Bandara Sultan Hassanudin langsung berjalan cepat ke arah antrian pengambilan bagasi. Biasanya tidak masuk bagasi tas hitam lusuh itu, tetapi berhubung ada benda terlarang, terpaksa masuk bagasi. Setelah tas hitam di dapat, aku bergegas ke kotak tiket taksi. “Losari Kak” kataku. “seratus ribu rupiah” kata si kakak sambil menyobek tiket taksi. “tunggu di luar, petugasnya pakai seragam kuning hitam”. Langsung aku jalan ke luar bandara, ternyata hujan. Makasar hujan sore ini. lumayan menunggu cukup lama akhirnya datang juga taksi itu. “Losari beach bang”. Sampai hotel hari masih sore, jam 3 an lah. setelah urus kamar dan simpan tas aku jalan keluar untuk cari makan. Apalagi kalau bukan Coto Makasar. “Jalan Ranggong” kata kawanku lewat chatting di hp. Siap lah..aku langsung berjalan di sekitar pantai, sambil cari tukang becak. tak lama ada tukang becak, sedang pegang botol bir kosong, Pak ke jalan Ranggong berapa? dia tidak bersuara hanya menunjukan tangannya, kedua tanganya. aku tanya lagi “berapa itu?”. “Sepuluh” kata dia, hemm mahal juga, aku bilang “Lima ribu lah”. dia tawar lagi “Tujuh ribu”. oke jadi lah dari pada kelamaan mana perut sudah lapar lagi. Lompat ke jok becak, langsung jalan ke arah Ranggong, ehh ternyata dekat saja, dari hotel mungkin hanya 500 meter sial. Rumah makan Coto Makasar di jalan Ranggong cukup ramai, selama saya duduk disana, tak hitung ada sekitar 20 orang yang beli..keluar masuk. Padahal makan saya termasuk cepat dan sedikit. Hanya dua mangkuk Coto Makasar daging plus dua bungkus kerupuk dan tiga potong Buras. Perut aman, mau merokok ingat lagi batuk, jadi yaa nggak jadi.
Habis makan aku duduk di pantai Losari beach depan hotel. Lihat anak-anak kecil berenang dan beberapa pasang yang pacaran. Mesra membuat jengkel yang lihat. sedang santai-santai telepon berbunyi..rupanya dari kawan. “oyy dimana nih” tanyanya. “di pantai ni duduk aja” kataku. “Makan yuukk, Konro Bakar karebosi” katanya. “Wah habis makan coto nih”..”alah makan lagi aja”. pikir-pikir nggak papa juga lah yaa.”Oke lah”
Sampai di tempat makan konro karebosi tempatnya penuh..nggak ada tempat duduk. Tunggu beberapa saat ada orang keluar, kawan saya langsung sambar tempat duduk itu karena masih banyak juga yang antri di belakang. Konro dari daging iga sapi, dibakar. Enak sih hanya berhubung perut sudah penuh saya hanya makan 3 potong daging saja sebesar telapak tangan. Ditutup dengan Es Jeruk.
Aku di Makasar hanya 6 jam saja, jam 1 pagi berangkat lagi ke Manokwari..hemm makan apa yaa di Manokwari…?

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Jabulani..ohh…Jebulane

Posted: 26th June 2010 by Taryono Darusman in Sosial-ekonomi

Pada turnamen akbar sepakbola 2010 di Afrika Selatan telah diputuskan untuk menggunakan bola yang dinamakan Jabulani. Jabulani dalam bahasa lain adalah “rejoice” di buat oleh Adidas kerjasama dengan salah satu universitas di Inggris sebagai tim peneliti-nya. Loughborough University (lihat di wikipedia untuk hal-hal teknis dan hasil penelitian lainya).

Bola ini diproduksi di Cina –entah mengapa tidak di Indonesia, Majalengka- karet lateks dikirim dari India dan Karet sintetisnya dari Taiwan. Dijual dengan harga US$110. Harga yang mahal kalo untuk latihan di belakang rumah saja.

Walaupun bola ini dibikin melalui penelitian yang serius di Inggris, dibikin dengan pengawasan ketat di Cina, keluhan mengenai bola ini terus bermunculan bahkan akhir-akhir ini beberapa bintang sepakbola mengeluh bahwa bola ini sulit sekali di atur atau di kuasai …ternyata bola sekarang nakal-nakal yaa…

Contoh adalah justru kiper Inggris, pada pertandingan melawan Amerika Serikat, gagal menguasai Jabulani dan bola menggelinding ke gawang. Tidak hanya penjaga gawang, beberapa penyerang pun mengeluh karena bola selalu melenceng dan tidak pas, alhasil statistik para penyerang ini kadang-kadang 90% melebar dan melenceng dan hanya 10% saja shoot-on-goal tapi belum goal..goal juga karena di gawang masih ada kipernya.

Jadi menamakan bola ini  jabulani yang berarti rejoice mungkin kurang tepat he..he..he..karena yang lebih sering muncul adalah ekspresi kesedihan dan kekecewan ketimbang ekspresi kegembiraan. Mungkin cocok kali dikasih nama “Jebulane” karena banyak menimbulkan rasa kaget dan heran..ohh jebulane ngono toh…

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Kaum Miskin dan Kekayaan Sosial

Posted: 23rd June 2010 by Taryono Darusman in Catatan Orang
Tags: , , ,
Jumat, 18 Juni 2010 | 04:47 WIB

Donny Gahral

Adian Kaum miskin memang kelompok yang selalu kalah dan dipinggirkan. Penganggur, tunawisma, pengemis, pemulung, atau pekerja seks murahan senantiasa disingkirkan secara sosial.

Kaum miskin secara diam-diam hendak dihilangkan secara sosial sebab mereka bukan subyek produksi sosial. Mereka pun dikucilkan secara sosial dan dibiarkan telanjang dan rapuh tanpa perlindungan sosial. Alasannya sederhana. Kaum miskin bukan buruh upahan sehingga tidak ada premi yang dapat ditarik untuk mengasuransikan mereka.

Alih-alih perlindungan, mereka justru mengalami penggusuran, penangkapan, dan berbagai bentuk rehabilitasi semu yang hanya memperburuk keadaan. Tulisan ini manifesto pembelaan terhadap kaum miskin. Kaum yang sudah cukup lama dilarang berharap di republik ini.

Menolak demonisasi

Pemahaman kita tentang kaum miskin tidak dapat dilepaskan dari filosofi tentang buruh, kerja, dan nilai. Marx menganggap kaum miskin parasit sosial yang merugikan. Di satu sisi, kaum miskin dianggap kelompok berbahaya karena mereka parasit sosial yang tidak produktif. Pencoleng, pekerja seks, pencandu narkoba, dan sejenisnya adalah kelompok yang membahayakan secara politik karena tidak terorganisasi, tak dapat diprediksi, dan cenderung reaksioner. Kata ”lumpenproletariat” pun dipakai untuk mendemonisasi kaum miskin secara keseluruhan.

Di sisi lain, kaum miskin dianggap tenaga cadangan bagi industri. Kaum miskin adalah tenaga cadangan yang sementara tidak bekerja, tetapi sewaktu-waktu dapat diintegrasikan ke dalam produksi industrial. Kaum miskin sebagai tenaga cadangan adalah ancaman permanen bagi kelas pekerja atau buruh. Pertama, penderitaan yang dialami kaum miskin memberikan contoh yang mengerikan kepada buruh mengenai apa yang juga dapat terjadi atas mereka. Kedua, kaum miskin adalah kelebihan pasokan tenaga kerja yang dapat menurunkan upah dan sekaligus posisi tawar buruh terhadap majikannya.

Antonio Negri (2004) menolak premis Marx mengenai kaum miskin. Pertama, tenaga cadangan industri sesungguhnya sudah tidak ada lagi mengingat buruh tidak lagi membentuk kesatuan yang padat dan koheren. Buruh industri saat ini hanyalah satu jenis kerja di antara berbagai jenis lainnya di dalam jejaring yang dimaknai oleh paradigma imaterial. Keterbelahan sosial antara buruh dan penganggur menjadi semakin sumir. Di epos pasca-Fordisme seperti sekarang tidak ada lagi pekerjaan yang stabil dan terjamin. Tidak ada pekerjaan yang aman, segalanya bersifat tentatif, kontrak, outsource, dan musiman.

Kedua, tidak ada ”cadangan” dalam pengertian tenaga kerja yang berada di luar proses produksi sosial. Kaum miskin, pengangguran atau tunawisma pada dasarnya subyek yang berperan aktif dalam produksi sosial meski tidak diupah. Mereka bukan tidak melakukan apa-apa. Strategi yang mereka lakoni untuk bertahan hidup sungguh luar biasa dan perlu kreativitas dan sumber daya.

Kaum miskin di sebuah desa tertinggal di Jawa Tengah, misalnya, membuat aturan memasak dengan pemakaian minyak goreng bersama. Strategi mereka untuk menghemat minyak goreng bukan sekadar memproduksi masakan, melainkan juga hubungan sosial berbasis afeksi dan solidaritas.

Kekayaan sosial

Kaum miskin adalah antagonisme di dalam kelas buruh. Kelas buruh mematok ”kerja” sebagai kerja upahan dan mengecualikan mereka yang miskin, penganggur, atau tunawisma. Pengecualian ini terwujud dalam logika asuransi sosial. Asuransi sosial berprinsip pada kemampuan membayar (ability to pay). Mereka yang tidak mampu membayar premi berupa potongan dari upah, tidak mendapat asuransi. Dengan kata lain, penganggur, tunawisma, dan kaum miskin kota tidak berhak mendapat asuransi karena tidak berupah.

Padahal, mereka yang tidak berupah tidak dapat dikatakan tidak bekerja. Mereka adalah agen yang turut menyumbang pada kekayaan sosial yang tak terukur. Ibu miskin yang tetap berupaya memproduksi afeksi sebanyak-banyaknya bagi sang anak adalah kontributor serius bagi kenaikan kekayaan sosial tersebut. Pemulung bukan sekadar memunguti barang bekas, melainkan menciptakan kebersihan lingkungan bagi semua. Kaum miskin sesungguhnya menggenggam kekuatan yang cukup besar untuk menentang kapitalisme. Sebab, apa yang mereka produksi tidak dapat sepenuhnya diukur dan dirampas oleh kapitalisme.

Kaum miskin berhadapan langsung dengan kapitalisme yang berusaha mempribadikan produksi dan kekayaan sosial mereka. Eksploitasi kapitalistik dewasa ini adalah privatisasi sebagian atau seluruh nilai yang diproduksi secara kolektif. Solidaritas dan komunikasi pada dasarnya adalah ”yang sosial”. Namun, kapitalisme berhasil memprivatisasinya. Saat kita berobat ke rumah sakit swasta internasional, kita mendapati pelayanan afektif berlebihan. Itu bukan disebabkan sikap bawaan para pelayan kesehatan, melainkan karena rumah sakit mengorganisasi produksi afeksi secara ekonomistik. Pantai yang tadinya arena bermain publik bagi anak- anak sekarang dipagari jadi pantai pribadi milik hotel-hotel internasional. Kebahagiaan, kesehatan, perkembangan budaya anak-anak sekarang menjadi urusan pribadi, bukan lagi sosial.

Sebagai ancaman serius kapitalisme, kaum miskin lantas dijinakkan. Ada dua opsi yang diambil kapitalisme. Pertama, kaum miskin diintegrasikan secara paksa ke dalam proses produksi kapitalistik. Mereka diberi baju buruh upahan yang dapat diorganisasi dan dikendalikan. Kedua, kapitalisme memperberat syarat perekrutan sehingga kaum miskin tetap melata di jalan-jalan menunggu mati. Kapitalisme juga memakai tangan penguasa untuk menyingkirkan mereka secara sosial. Logistik bukan persoalan. Kapitalisme punya cadangan dana sosial yang dalam bahasa sekarang disebut ”tanggung jawab sosial perusahaan”.

Kaum miskin adalah kelompok yang sudah cukup lama dibisukan secara politik. Tak ada parpol yang sungguh memperjuangkan mereka. Sebab, mereka bukan isu politik yang laku dijual. Pekerja rumah tangga, misalnya, dianggap berada di luar logika buruh upahan-industrial. Akibatnya, rancangan undang-undang pekerja rumah tangga (RUU PRT) pun dikeluarkan dari program legislasi nasional. Segenap marginalisasi tersebut perlu dilawan secara politik.

Sudah saatnya kaum miskin melepaskan diri dari jerat ganda kapitalisme-negara dan memaklumatkan diri sebagai subyek politik yang berdaulat. Kekuatan produktif dan sosial mereka adalah modal untuk membentuk apa yang Negri (2004) sebut sebagai multitudo. Multitudo adalah kekuatan sosial yang cair, tetapi dahsyat sehingga tak mudah ditundukkan oleh dominasi kapitalisme-negara. Dengan kekuatan itu, kaum miskin mampu menjadi subyek politik dan merebut harapan dengan tangan mereka sendiri. Kaum miskin sedunia, bersatulah!

Donny Gahral Adian Dosen Filsafat Politik Posmodern Universitas Indonesia

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Orang Di Kampung Perlu Informasi Juga Bung!

Posted: 17th June 2010 by Taryono Darusman in Sosial-ekonomi

Kemarin aku dapet pesen singkat pagi-pagi bener. kaget juga dapet pesen dari kawan satu ini karena setahu-ku kampung dia belum ada yang jualan sinyal telepon, operator manapun yang ada baru jualan Hape-nya aja. Pesen-nya singkat aja, makanya disebut SMS, “bisa ditelp Bung?”. Karena aku masih orang timur, aku memaknai pesan ini adalah agar aku telepon dia, jadi kutelpon dia.

“Halo, apa kabar, ada dimana nih tumben bisa telpon?” aku langsung sembur dengan pertanyaan. “ Lagi di Kota ini, abis kerja reboisasi” jawab dia. “ Ada kabar apa nih” aku tanya lagi.

“ ahh biasa aja, itu kemarin Pak Kades minta tolong ke aku untuk menanyakan tentang kegiatan orang-orang yang suka datang ke kampung, Pak Kades bilang ada yang mau buka kebunsawit, ada yang mau tanam pohon ada rencana transmigrasi, dia bingung makanya saya telpon Bung, sapa tahu Bung tahu lah” Kawanku menjelaskan maksud dan tujuan secara singkat dan jelas.

“Wah..aku tak terlalu tahu banyak nih, tetapi yang saya tahu lahan hutan di kampung sana kan itu gambut dalam, jadi mana mungkin dibikin kebun sawit, kalau di pake transmigrasi juga kasian kan, siapa yang mau tinggal disana?”.  Dia menjawab, “korban lapindo kali bung” yaa mungkin saja lah kan deket-deket dengan lumpur juga.

“terus bung mengenai ijinnya bagaimana?” kawanku tanya lagi. “wah kalo ini biasanya mereka (kebun sawit atau kebun lainnya dan usaha lainnya) harus punya ijin konsensi tuh dari Menteri kehutanan, karena setahuku status lahan masih dalam Kawasan hutan kan. Kalau hanya dari Bupati mungkin..ini mungkin loh itu baru ijin prinsip, atau ijin arahan lokasi, belum ijin konsensi. Jadi belum boleh operasional kok, apalagi ganggu-ganggu penduduk kampung” aku sedikit menjelaskan dan semoga tak tambah bingung kawanku ini.

“lah, kalau ada tanah masyarakat gimana?” dia tanya lagi, “wah kalau ada tanah masyarakat, walaupun sudah ada ijin konsesi dari menteri kehutanan, kayanya harus ijin lagi dengan masyarakat, pembebasan lah, kalau masyarakat tak setuju yaa tidak operasional, begitu lah kira-kira” aku coba juga jawab lagi.

“tapi kayanya hal ini perlu bicara di darat saja, kalau ditelpon susah juga yaa” kataku kepada dia, padahal ingat tagihan telpon yang bakal membengkak he..he..he..”oh iya..kapan turun ke kampung lagi nih, biar kita duduk bareng dan cerita sama orang di kampung, jangan sampai mereka tidak ada informasi lah” ujar dia dengan nada lumayan semangat.

“Oh iya siap saja, nanti ku kabari kalau turun ke sana” sambil berpikir kapan yaa ada ongkos untuk pergi ke sana. ke kampung sana semua moda transportasi dipake darat, laut dan udara. Padahal kalo tidak ada orang yang rela memberi informasi kepada mereka sayang juga.

Banyak orang kampung sudah takut dengan selembar surat dengan lambang pemerintahan padahal isinya belum tentu menakutkan. Mereka pun tidak terlalu paham urusan perijinan dan hak-hak yang mereka punyai. Jadi penyebaran informasi bermanfaat (pengetahuan) memang perlu kalo infotaiment mah kadang-kadang aja dech.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Are you indispensable?

Posted: 15th June 2010 by Taryono Darusman in Catatan Pikiran
Tags: ,

Are you indispensable? That is question difficult to answer at least for me; it will depend on various conditions to answer. But if we modify the question become “Are you indispensable in your home?” or “Are you indispensable in your workplaces?” I think it’s relatively not difficult to answer, don’t you think so?

I knew that word from the book title of Set Godin: Linchpin: Are You Indispensable but just for your attention, I don’t intend to make summary or review of the book. I just want to write my view about the word, because the word “Are you indispensable?” so annoying and I have to answer it. So passages below are my trick to answer the question.

Before you answer such question, first you can do a little test to your own situation at home by asking to yourself “How if I no longer stay at home is the situation at home still Okay?” If the answer is yes so you are not indispensable. Your family at home not really needs you or you are not making a significant contribution regarding to material or non-material.

Or if related to your workplace situation, you can make a little test by ask a question like this:

1. If I leave the company, will the company still run well?

2. How quick my employer will find a new staff to replace me?

If the answer is yes and quick enough, it is very obvious that you are not indispensable at your workplace. Your contributions in your workplace are not essentials. With or without you the company still makes a profit. Your employer will easily find new staff, just in the corner on the office building in a few minute not even a day.

If those conditions happened to you, it’s hard for you to ask a promotion or increase a salary; on the contrary you are easily fired by your employer. So, If I were you, I will make important changes. Working hard and smart to become an indispensable, either at home or at workplaces. How to do that? Find by yourself!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

“Dibawah Pohon Rindang” or DPR for short is a nickname for traditional barbershop, usually located under the big canopy such as Asem Jawa, Mahoni, Beringin and others big canopies. You can locate DPR easily along the street, mainly street lined with big trees, indicated by white-colored sheet strapped to the tree stem, and hair-covered floor. This traditional barbershop has unique kit such as hanged-small mirror on the breast-height tree stem, chair, and plank for a kids, haircutting scissors, cut-throat razor, hair clippers, shaving brush, and comb. All tools are operated manually or mechanically by an old-man with spectacles, so there are no electrical consumptions.

When I was child, My Mom always took me there to had my hair cut, because it was comparatively cheap and not far from Dustira Hospital-Cimahi where My Mom works every day. Before cut my hair, the barber positioned me on the plank that placed on the arms of chair so my head high enough for him and I could see my face in the hanged-mirror. After fixed me on the plank, he had sprayed my hair with water and combed, then he started cut my hair using a manual clippers, begin from nape and end on the top of my head. Sound of clippers was very clear in my ear, keutek..keutek…keutek when cutting my hair. That’s why my friend and I   called keutek-keutek for that thing.  Done with keutek-keutek, The Barber would use scissors, a dark-colored-big-sharp scissors, to trim my hair. And then as a finishing, he would clean my nape using a razor, but before that, he had soap my nape using a shaving brush.

The barber would not ask about the haircut because he only has one hair style, crew cut. There was neither poster of models nor bands like Duran-Duran. So it’s no options for a hair style, only matter about how short your hair want to be cut, 2-1 or 1-0. 2-1 has a meaning, the barber would leave your hair 2 cm long on the top of your head and the rest is 1 cm and 1-0 you can figure out by yourself. But, for the sake of efficiency the barber often did 1-0 model, unless you protested at the beginning.

Do haircut in DPR it was very relaxing, sometimes I saw old man fall asleep when being cut. That time, between 70’es- early 90’es, the local climate is cooler, so being in open air, gentle massage on your head, there are no air pollution from cars and motorcycles, and there are no noises from DPR about mafias. I believe you would be peaceful and couldn’t stand to keep your eyes open even you had a one big cup of java before.

I’m still remember that moment clearly, so I can share to my child but I think my child will not be understand.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Mie Rebus Pake Telor Plus Dangdut

Posted: 20th May 2010 by Taryono Darusman in Sosial-ekonomi

Hari kemaren hujan tak berhenti sejak sore, kadang gerimis kadang besar sesekali kilat disusul guntur, memang Bogor Kota Hujan. Jam 8 malam aku ajak kawan ku di rumah untuk makan Mie Rebus di tikungan jalan depan rumah. 50 meter saja dari rumah, jadi tak usah bawa payung atau segala alat penangkal basah. Kami setengah berlari menuju warung mie rebus itu. Ahh sudah ada tiga orang di sana rupanya. “geser-geser” ujar salah satu pengunjung..kulihat sekilas ehhmmm wajahnya cukup ku kenal, dia tukang bangunan rumah sebelah. Sudah hampir tiga tahun dia bekerja di rumah sebelah, membangun, memperbaiki, merehab aahh pokonya ada saja pekerjaan di rumah sebelah itu. malah kadang-kadang yang sudah selesai..mungkin dirasa kurang sedap dipandang..esoknya sudah rubuh lagi dan mulai dikerjakan lagi dengan model baru.

Setelah duduk di bangku panjang. “mie rebus dua pake telor nya teh!” ujar ku kepada si Teteh penjaga warung. Sambil nunggu mie jadi aku mendengarkan musik dangdut yang distel oleh lelaki setengah baya di belakang warung, mungkin suaminya. Suara cukup keras..keras sampai kami harus setengah berteriak dan berdekatan untuk sekedar ngobrol. Lagu-lagu dangdut yang diputar lagu-lagu dangdut dari tahun 80 sampai 90 an..” wah dangdut klasik” kata temanku. he..he..he.. aku tertawa, ada juga yaa dangdut klaksik ha..ha..ha..Tapi memang dangdut ini enak untuk bersantai dan bergoyang tak terlalu keras dan cepat tapi juga tidak “menyek-menyek” atau “ngak-ngik-ngok”.

Saat asyik mendengarkan dangdut klasik ini, mie diantar.  Mie sudah siap, hangat dan harum. “Teh nggak ada kerupuk yaa” ku bertanya. “enggak ada pak, biar saya belikan di kios depan aja yaa”. “boleh” aku jawab. Setelah kerupuk datang, ku santap mie rebus pake telor ini. hemmm rasanya enak benar..hujan lagi. Jadi inget masa waktu sekolah dulu. Kalo malam-malam selesai kerjakan tugas, makan mie rebus pake telor dan tetap lagunya dangdut.

Memang “Dangdut never die” kata salah satu TV swasta di RI ini. begitu pula mie rebus pake telor never die juga aahh.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Keramahan Pak dan Ibu Ruslan di Kampung Pinggiran

Posted: 1st May 2010 by Taryono Darusman in Sosial-ekonomi

Keluar dari Kanal Paring sudah gelap gulita, ces yang kami tumpangi pun tidak memiliki lampu. Pak Gian, boatman, mengemudikan ces dengan hati-hati, karena di Sungai Mentaya ini kadang-kadang ada saja gelondongan kayu yang terapung-apung,  sekali tertabrak bisa celaka alamat karam, mana dalam lagi sungai ini. karena kondisi begini dan bahan bakar pun menipis diputuskan untuk menginap saja di kampung terdekat. Segera saja ces diarahkan kepada jajaran lampu yang berkelap-kelip, arah Selatan mungkin setengah jam baru bisa sampai.  Beberapa puntung rokok sudah terbuang baru kami mulai mendekati kampung, terlihat tonggak-tonggak penyangga rumah tak beraturan. Pak Gian memperlambat laju ces untuk mencari tempat merapat. Sementara ces sedang ditambat, Aldo langsung meloncat ke naik ke beranda rumah untuk menyapa sekaligus mencari tempat menginap.

Kami menginap di Pak Ruslan, Ketua RW di Kampung Pinggiran. Letak kampung tepat di pinggir Sungai Mentaya. Di rumah ini hanya ada Pak Ruslan dan Bu Ruslan. Kami semua duduk di ruang tengah berbentuk huruf L, di ujung belakang ada sebuah TV. Sambil ngobrol kami sesekali melirik ke acara TV, kayanya sih take him out. Menurut cerita Bu Ruslan, rumah ini memang sudah seperti rumah singgah bagi para pekerja yang survey ke hutan. Bahkan bapak-bapak dari kehutanan seringkali menginap disini katanya. Pantas saja pelayanan-nya sudah serba cepat dan tidak kagok lagi. Kopi dan makanan kecil yang kami keluarkan lancar di sajikan, begitu pula makanan berat. Ikan asin plus mie sudah siap disantap dalam tempo tidak terlalu lapar.

500-size-Pak ruslan pinggiran1

Sambil ngobrol ngalor ngidul, Bu Ruslan bercerita mengenai anak-anaknya, ada enam anak, dua perempuan dan empat laki-laki sudah menikah semua. Menikah dengan berbagai suku di Indonesia, katanya dengan bangga, ada Jawa, Sulawesi, Batak dan lupa saya yang lainnya. Mencerminkan memang keluarga ini cukup terbuka. Orbrolan sambil minum kopi dan menikmati pantulan cahaya bintang pada Sungai Mentaya berlangsung sampai jauh malam. Apalagi ditambah kedatangan beberapa tetua kampung yang bergabung untuk berbagi cerita. Perbincangan ramah-tamah dan saling mencari tahu ini kadang terganggu karena sesekali terdengar suara orang sedang berkelahi di dalam rumah Pak Ruslan. Film kungfu favorit sudah dimulai dan sedang seru.

Topik cerita berubah-rubah tergantung lontaran pertanyaan saja, kadang masalah hutan, kadang masalah sawit, ekonomi yang semakin sulit bagi penduduk lokal sampai ke pembuatan alat pertukangan. Ya, pekerjaan Pak Ruslan adalah pandai besi dan merawat sebidang tanah yang ditanami belbagai macam buah, serta karet.

Semakin larut, akhirnya kami memilih tidur mengingat perjalana besok menyusuri anak sungai lagi. Bu Ruslan menyiapkan obat nyamuk, bantal dan kipas angin jadi tidak perlu kelambu yang menyesakan napas. Terima kasih Bu, semoga kebaikannya dibalas setimpal !!!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Dinamakan Sungai Hanaut karena aliran sungainya melalui Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut, Sampit. Bermuara di Sungai Mentaya tepat berhadapan dengan Pulau Hanaut, sebuah delta di Sungai Mentaya. Ada tiga jalur masuk yang biasa dilakukan warga lokal untuk masuk ke hulu Sungai Hanaut, yaitu Kanal London, Kanal Paring dan Kanal Sedia. Tiga Kanal ini langsung memotong aliran sungai menuju Sungai Mentaya. Sungai Hanaut yang asli sudah jarang digunakan dan sudah menyempit karena sedimentasi.

Gelondongan kayu di hulu sungai hanaut. Dok. Taryono (Starling resources) Gelondongan kayu terantang di hulu sungai hanaut. Dok. Taryono (Starling resources)

Jam 8 pagi kami berangkat menuju Kanal Paring untuk menyusuri Sungai Hanaut. Panjang Kanal Paring sekitar lima kilometer dari ujung Sungai Mentaya ke Ujung Sungai Hanaut. Tiba di aliran sungai hanaut kami disuguhi suasana pagi yang cukup indah. Cipratan air sungai yang berwarna coklat hampir hitam dikombinasi dengan tiupan angin pagi dan jeritan burung mengalahkan teriknya cahaya matahari. Burung-burung rawa beterbangan, mungkin mencari makan atau sekedar berkeliling. Mulai mendekat ke arah hutan, terlihat berjejer rakit-rakit gelondongan kayu. Satu rakit terdiri dari lima sampai enam batang kayu dengan panjang empat meter dan diameter 20-30 cm. Dalam satu rangkaian rakit bisa mencapai 15-20 rakit. Jadi bisa anda perkirakan sendiri berapa jumlah batang gelondongan tersebut. Dan ini tidak hanya satu rangkaian rakit, saya hitung sampai masuk ke dalam hutan ada sekitar 6 rangkaian rakit.

Rakit log kayu. Dok. Taryono (starling resources)

Rakit log kayu. Dok. Taryono (starling resources)

Menjelang sore, rombongan kami hampir tiba di ujung Sungai Hanaut ini. Lebar sungai sudah menyempit, hanya 1-2 meter saja kedalaman hanya sepaha saja kadang malah hanya selutut saja. Read the rest of this entry »

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Nggak ngerti nulis apa?

Posted: 26th April 2010 by Taryono Darusman in Sosial-ekonomi

Saya mau nulis, ingin sekali malah, tetapi nggak tahu enggak ada ide untuk ditulis. Buntu sekali. Pikiran sedang kacau, campur aduk, enggak bisa fokus pada satu hal.  Lihat keluar cari inspirasi juga enggak bisa. Hujan menutupi pikiran dan imajinasi. Apes pokonya.

Telepon teman pada enggak ada di tempat, pergi. sibuk kerja katanya. lagi-lagi apes. mau kerja, atau baca-baca juga nggak tenang juga. gelisah dan gundah.

Mau tidur juga susah, pikiran lagi penuh enggak jelas. Mau nonton cari ide, bingung banyak iklan dan cerita-cerita kemiskinan, kecelakaan, korupsi, mafia, ini nggak becus itu nggak becus..tambah kesel juga hati ini.

aahhhh apes sekali saat ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)